Studi Lapang : Belajar Biogas di Desa Bendosari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang
Desa Bendosari merupakan salah satu desa dengan potensi ternak yang cukup tinggi yaitu sekitar 15% dari keseluruhan potensi hewan ternak di Kecamatan Pujon. Bahkan, Desa Bendosari ditunjuk oleh Pemerintah Kabupaten Malang sebagai Desa Percontohan Biogas. Biogas yang digunakan adalah biogas yang dihasilkan dari kotoran sapi perah. Biogas dari bahan baku kotoran sapi ini umumnya mengandung sekitar 60-70% metana (CH4) dan sekitar 30-40% sisanya adalah karbondiaoksida (CO2). Kandungan lain seperti H2S dan uap air dalam prosentase yang kecil.
Senin, 12 Desember 2022, siswa-siswi MA Hidayatul Mubtadiin kelas XI-IPA mengikuti kegiatan studi lapangan di Desa Bendosari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang didampingi 2 guru pembimbing, yaitu Ibu Titin Budi R, S.Pd dan Bapak Moh. Imam Bahrul Ulum, M.Pd. Tujuan kegiatan kunjungan belajar ini adalah untuk menambah wawasan siswa mengenai pengolahan dan pemanfaatan energi terbarukan yaitu Biogas, memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar secara langsung dengan sumber ajar, dan juga memberikan pengalaman kepada siswa.
Siswa-siswi mendapatkan penjelasan tentang latar belakang pengolahan Biogas, cara pengolahan biogas serta pemanfaatanya. Bagian utama dari instalasi Biogas adalah digester, tangki kedap udara yang menjadi tempat memproses kotoran sapi menjadi gas. Perhitungan kapasitas alat didasarkan pada jumlah sapi dan feses yang dihasilkan dengan perhitungan sebagai berikut:
- Tiap ekor sapi menghasilkan -/+ 2 ember kotoran /hari
- Kotoran diencerkan dengan 3 ember air (Volume ember = 10 liter)
- Jumlah sapi yang diusahakan 4 ekor sapi
- Proses pembentukan gas (fermentasi) sekitar 8-10 hari.
- Untuk hasil yang maksimal menghasilkan api berwarna biru proses fermentasi berlangsung selama 12 hari.
Berdasarkan perhitungan di atas, maka setiap hari yang dimasukkan ke dalam digester adalah 2+3 ember = 5 ember atau 50 liter campuran feses dan air untuk tiap ekor sapi. Bila lamanya pembentukan gas 10 hari, maka tiap ekor sapi membutuhkan ruang digester 10 x 50 liter = 500 liter. Di dalam digester tersebut kotoran dicerna dan difermentasi oleh bakteri yang menghasilkan gas methan serta gas-gas lain. Gas yang timbul dari proses ini ditampung di dalam digester. Penumpukan produksi gas akan menimbulkan tekanan sehingga dapat disalurkan ke rumah dengan pipa. Gas yang dihasilkan tersebut dapat dipakai untuk memasak dengan mengunakan kompor gas.
Gas yang dihasilkan sangat baik untuk pembakaran karena mampu menghasilkan panas yang cukup tinggi, apinya berwarna biru, tidak berbau dan tidak berasap. Api baru akan muncul jika saat kompor dinyalakan langsung bersentuhan dengan api yang menyala, tidak bisa jika hanya dengan bara seperti puntung rokok dan semacamnya. Sehingga, tidak berbahaya karena tidak beresiko untuk meledak. Dengan demikian, memanfaatkan kotoran sapi menjadi sesuatu yang lebih bernilai seperti Biogas tersebut dapat mengurangi volume timbunan kotoran sapi yang berpotensi mencemari udara, tanah dan air.
