Pendidikan Konservasi Magrove
Penulis : Moh. Imam Bahrul Ulum, M.Pd
Manusia Kuasai Alam???
Di Negara-negara maju kerusakan lingkungan diakibatkan oleh penggunaan teknologi, konsumerisme, dan cara hidup yang berlebihan dalam memanfaatkan sumberdaya alam. Seiring perkembangan teknologi alam mulai diekploitasi. Teknologi yang semula dimaksudkan untuk mempermudah kerja otot manusia, ujungnya digunakan untuk menaklukan Alam. Manusia tidak lagi bergantung dengan alam, namun malah menguasai Alam. Tahapan ini disebut Anthropocentrism, dan tahapan selanjutnya adalah Holism, ketika manusia tidak lagi merasa bagian dari alam.
Sebaliknya di Negara berkembang seperti Indonesia kemiskinan telah membawa masyarakat untuk merusak alam. Ketika alam mulai bertingkah lewat berbagai bencana, Manusia lantas menyalahkan alam bahkan menyalahkan Tuhan. Karenanya ketika sebagian manusia menyadari bahaya akan eksploitasi alam, muncullah berbagai gerakan untuk menyelamatkan alam dan lingkungan. Istilah “Sustainable Development” (pembangunan berkelanjutan atau kata lain pembangunan berwawasan lingkungan) dan slogan “Hanya satu Bumi” menunjukkan bahwa manusia makin menyadari bahwa alam dan sumberdaya alam sangat terbatas jumlahnya. Istilah Sustainable Development pada dasarnya berangkat dari asumsi bahwa generasi mendatang berhak untuk dinikmati alam ini. Artinya, alam bukan diwariskan ke anak cucu, melainkan justru pinjaman dari anak cucu yang harus dikembalikan.
Benar kata Mahatma Gandhi ” Bumi menyediakan makanan yang cukup bagi manusia, namun tidak bagi keserakahan”
Apapun Penyebabnya,
Perlu adanya konservasi sumber daya alam, yakni pengelolaan sumberdaya alam untuk menjamin pemanfaatannya secara bijaksana serta kesinambungan ketersediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai serta keanekaragamannya. Jelas bahwa konservasi adalah upaya pelestarian lingkungan dengan tetap memerhatikan manfaat yang dapat diperoleh dari lingkungan. Kegiatan konservasi harus dilaksanakan secara kompreshensif, baik oleh pemerintah, lembaga pendidikan,masyarakat, swasta, lembaga swadaya masyarakat serta pihak-pihak lainnya.
MA Hidayatul Mubtadi’in Tasikmadu
telah membekali peserta didiknya dengan kegiatan pendidikan konservasi mangrove di kawasan Pantai Tiga Warna yang merupakan pembinaan sekaligus pendidikan yang nyata bagi peserta didik.
Pendidikan konservasi mangrove merupakan sebuah proses pembelajaran peserta didik memahami dan mengenal lingkungan untuk pembangunan berwawasan masa kini dan memerhatikan generasi masa mendatang. Adanya pendidikan konservasi sendiri memiliki tujuan untuk meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan kesadaran peserta didik tentang nilai-nilai lingkungan dan isu permasalahan lingkungan yang pada akhirnya dapat menggerakan peserta didik untuk berperan aktif dalam upaya pelestarian dan keselamatan lingkungan untuk kepentingan generasi sekarang dan yang akan datang.
Tugas Kita Semua!
Sikap manusia dapat diubah atau dididik melalui proses pembelajaran di suatu pendidikan. Sikap peduli terhadap lingkungan seharusnya ditanamkan dan dikembangkan sejak dini kepada peserta didik agar tingkat kepedulian terhadap lingkungan bisa lebih baik. Sikap peduli lingkungan mengandung arti sebagai upaya untuk melestarikan, mencegah dan memperbaiki lingkungan Alam. Seorang Guru tidak hanya bertugas untuk mengembangkan peserta didik pada aspek kognitif saja. Guru harus mampu mengembangkan aspek afektifnya seperti menanamkan perilaku baik yang akan menjadi karakter peserta didik.
