Menanti Kahadiran Ayah
Cerpen Karya: Siska Novitasari (XI-IPA)
Telah lahir seorang perempuan dari keluarga sederhana, Ia bernama Alena. Dia adalah sosok yang ceria, ramah, penuh kasih, dan selalu patuh pada kedua orangtuanya. Namun, kecerian itu berubah saat orangtuanya memutuskan untuk berpisah. Sejujurnya dia sangat tidak menerima keputusan ini, tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa karena itu adalah keputusan ibunya.
Perceraian itu seperti pukulan telak bagi Alena. Kehidupannya yang cerah tiba-tiba menjadi kelam. Senyumnya yang dulu selalu menghiasi wajahnya, kini jarang terlihat. Keceriannya memudar, digantikan oleh kenyamanan yang menyakitkan. Alena merasa terputus dari dunianya sendiri, sulit menerima kenyataan bahwa keluarganya tidak lagi utuh.
Setiap hari, Alena mencoba mengatasi perasaannya sendiri. Bahkan sampai dimana dia dihadapkan pada masalah besar, dia tidak pernah mau membuka hati kepada siapa pun, termasuk kepada ibunya. Alena merasa tidak ingin menambah beban bagi orang-orang di sekitarnya. Dia memilih untuk menyimpan segala kesedihannya sendiri, dan meluangkan waktu untuk bisa menyesalinya.
Satu tahun setelah keputusan itu diambil, Alena tidak pernah bertemu dengan ayahnya. Alena sangat ingin bertemu dengannya.
Suatu hari, Alena bertemu dengan ayahnya. Ia sangat senang, banyak bertanya dan banyak bercerita kepada ayahnya. Dalam pertemuan itu, Alena meminta satu hal kepada ayahnya agar ayahnya datang saat ulang tahunnya. Ayahnya pun mengiyakan permintaan itu.
Tibalah hari ulang tahun Alena, hari yang sangat ia tunggu-tunggu. Alena berharap bisa merayakan ulang tahun bersama ayahnya. Namun, setelah menunggu berjam-jam, ayahnya tidak kunjung datang. Alena mulai sedih dan ingin menangis. Ia bertanya-tanya mengapa ayahnya tidak bisa datang pada ulang tahunnya, padahal itulah satu-satunya permintaan Alena.
Dua tahun setelah ulang tahun Alena yang kelima belas, Alena mulai terbiasa dengan kehidupan yang baru. Suatu hari, saat Alena sedang bersekolah, dia diberitahu bahwa ada seseorang yang ingin bertemu dengannya. Alena pun menemui orang-orang tersebut, namun dia tidak mengenali siapa pria itu. Ketika mereka bertemu, pria itu dengan lembut mengungkapkan bahwa dia adalah ayah yang sudah lama tidak terlihat. Alena terperangah, dan ia sangat kaget mendengarnya karena dari wajahnya saja Alena sudah lupa.
Selama ini dia membayangkan sosok ayah yang hampir terlupakan, namun ketika kenyataan itu muncul di hadapannya, dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Air mata mengalir deras dari matanya yang memerah, campuran antara kegembiraan dan kesedihan yang begitu dalam.
Dalam perjalanannya untuk membangun kembali ekosistem dengan ayahnya, Alena belajar banyak tentang pengampunan dan penerimaan. Dia menyadari bahwa perpisahan telah menyakitinya, kehadiran ayah kembali dalam hidupnya membawa cahaya baru dan harapan yang menghangatkan hatinya.
