Berhentilah Sebut Guru Sebagai Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Penulis: Moh. Imam Bahrul Ulum, M.Pd.

Setiap tahun kalimat itu selalu kembali terdengar: Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa.”
Kita ucapkan dengan hormat dan dengan rasa haru, seolah itu adalah bentuk penghargaan tertinggi bagi mereka yang mengabdikan hidup di ruang-ruang kelas. Namun, jika kita mau berhenti sejenak dan merenungkannya lebih dalam, sebutan itu justru terasa janggal.

Di balik kalimat yang terdengar manis itu, ada beban yang diam-diam diselipkan.
Guru diminta untuk kuat meski lelah, sabar meski terluka dan penuh dedikasi meski tak selalu dihargai.
Guru diminta untuk ikhlas, bahkan ketika suaranya tak pernah didengar.
Guru diminta untuk berjuang tanpa banyak bertanya, tanpa banyak mengeluh, seakan-akan menjadi guru berarti menanggalkan sisi manusianya sendiri.

Padahal, guru bukan pahlawan. Mereka bukan sosok yang tak kenal lelah, bukan tokoh ideal yang selalu punya jawaban untuk segalanya. Guru adalah manusia biasa yang setiap hari berusaha bertahan di tengah sistem yang sering kali tidak berpihak pada mereka.

Mereka yang diminta berinovasi, tapi sebagian besar waktunya habis mengisi laporan dan administrasi. Mereka yang ditugasi menumbuhkan karakter murid, tapi tak diberi ruang untuk mengenali dirinya sendiri yang juga sedang tumbuh. Mereka yang diharapkan menciptakan pembelajaran mendalam, tapi dibatasi oleh kebijakan yang kaku dan tidak kontekstual.

Dan ketika rasa lelah itu datang, nasihat yang muncul justru terdengar klise: Guru itu harus ikhlas.
Seolah keikhlasan bisa menggantikan keadilan. Seolah dengan pujian, semua luka bisa sembuh.
Padahal kalimat-kalimat seperti itu sering dijadikan tameng untuk membenarkan keadaan yang tidak adil.
Seolah sanjungan bisa menggantikan dukungan nyata yang seharusnya diberikan.

Apresiasi sejati tidak berhenti pada kata-kata.
Yang dibutuhkan guru bukan sekadar pujian, tetapi sistem yang benar-benar berpihak pada mereka.
Sistem yang percaya pada suara guru.
Sistem yang memberi ruang bagi mereka untuk belajar, mencoba dan bahkan gagal tanpa takut disalahkan.
Sistem yang menghargai waktu guru untuk tumbuh, bukan hanya menuntut hasil dari murid.
Sistem yang memastikan penghargaan dan kesejahteraan yang layak.

Sebab sejatinya, pendidikan tidak akan pernah membaik selama guru terus diperlakukan hanya sebagai pelaksana, bukan perancang perubahan. Perubahan tidak akan lahir dari pujian, tapi dari sistem yang manusiawi.

Mungkin sudah saatnya kita berhenti menaruh guru di atas panggung hanya untuk memujinya setiap peringatan, lalu melupakannya setelah upacara selesai. Sudah saatnya kita memandang guru bukan sebagai pahlawan, tetapi sebagai manusia yang layak didukung, didengarkan dan dipercaya. Karena yang dibutuhkan pendidikan hari ini bukan sosok heroik yang sempurna, melainkan lingkungan yang manusiawi. Lingkungan yang menjaga agar guru tetap bisa berpikir jernih, bekerja dengan martabat dan merasa bahwa suaranya sungguh berarti. Sebab di tangan merekalah masa depan tumbuh bukan karena mereka pahlawan, tapi karena mereka manusia yang terus berjuang dengan hati.

Leave a Reply