Hidden Curriculum Diam-Diam Membentuk Anak
Penulis: Moh. Imam Bahrul Ulum, M.Pd.
Pendidikan tidak hanya terjadi ketika guru menjelaskan materi di depan kelas.
Anak-anak belajar dari banyak hal yang mereka lihat setiap hari.
Mereka belajar dari cara guru berbicara,
dari bagaimana aturan ditegakkan,
dari siapa yang dihargai dan bagaimana orang-orang di sekolah saling memperlakukan.
Inilah yang disebut hidden curriculum atau kurikulum tersembunyi.
Sederhananya, hidden curriculum adalah pelajaran yang tidak tertulis dalam buku atau silabus,
tetapi diam-diam dipelajari anak melalui kebiasaan dan pengalaman sehari-hari.
Misalnya, guru mengatakan bahwa proses belajar lebih penting daripada nilai.
Tetapi setiap pembagian hasil ujian, yang selalu dipuji hanya siswa dengan nilai tertinggi.
Anak akhirnya bisa belajar bahwa yang paling penting bukan proses, melainkan menjadi yang terbaik.
Contoh lain, sekolah meminta siswa berani bertanya dan berpikir kritis.
Namun ketika seorang siswa terlalu banyak bertanya, ia justru dianggap mengganggu.
Pelajaran yang mungkin tertanam adalah “Lebih baik diam daripada banyak bertanya.”
Begitu juga ketika guru mengatakan bahwa kesalahan adalah bagian dari belajar.
Tetapi saat siswa salah menjawab, ia ditertawakan atau dimarahi.
Anak bisa belajar bahwa melakukan kesalahan adalah sesuatu yang memalukan.
Begitu pun dengan pelajaran tentang kedisiplinan.
Siswa diminta datang tepat waktu, tetapi guru sering terlambat.
Tanpa disadari anak belajar bahwa aturan ternyata bisa berbeda tergantung siapa yang melakukannya.
Sebaliknya, hidden curriculum juga bisa menjadi pelajaran yang sangat baik.
Guru yang datang tepat waktu sedang mengajarkan disiplin.
Guru yang berkata “Maaf, tadi saya salah” sedang mengajarkan kerendahan hati.
Guru yang tetap menghargai siswa meskipun jawabannya salah sedang mengajarkan keberanian.
Sekolah yang membiasakan siswa membersihkan kelas bersama-sama
sedang mengajarkan tanggung jawab dan gotong royong.
Semua itu mungkin tidak tertulis dalam silabus.
Tidak ada ulangan khusus untuk mengukurnya.
Tetapi anak-anak melihat dan merasakannya.
Karena itu, mungkin kita perlu sesekali bertanya kepada diri sendiri:
Ketika kita mengajarkan kejujuran, apakah anak melihat kita jujur?
Ketika kita mengajarkan disiplin, apakah kita sudah memberi contoh?
Ketika kita meminta mereka menghargai orang lain, apakah mereka melihat kita melakukan hal yang sama?
Sebab anak-anak tidak hanya belajar dari apa yang kita katakan.
Mereka belajar dari apa yang kita lakukan
Dan sering kali, apa yang mereka lihat setiap hari jauh lebih kuat daripada apa yang kita sampaikan di depan kelas.
Itulah hidden curriculum
pelajaran yang tidak pernah tertulis,
tetapi terus hidup dalam keseharian sekolah.
