Masihkah kita ingin menyalahkan orang lain atau mulai mengambil langkah untuk menyelamatkan bumi kita?

Sumber Foto: kkp.go.id

Penulis: Moh. Imam Bahrul U, M.Pd.

Ketika laut penuh sampah, ketika hutan gundul tanpa sisa, ketika udara sesak oleh polusi, Apakah alam yang lemah? Ataukah manusia yang terlalu serakah?

Kita sering menyalahkan bencana alam tanpa mau mengakui bahwa kita sendiri yang memicunya. Banjir dianggap sebagai murka Tuhan padahal sungai kita penuhi sampah dan bantaran kita gusur tanpa kendali. Kekeringan disebut cobaan padahal kita menebang hutan tanpa henti. Udara panas menyengat tetapi kita terus menghasilkan polusi tanpa peduli.

Al-Qur’an sudah memperingatkan jauh sebelum semuanya terjadi:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
(QS. Ar-Rum: 41)

Kitalah yang salah. Bukan pemerintah semata, bukan perusahaan saja, bukan juga orang-orang jauh di luar sana. Kita semua ikut ambil bagian, entah dengan tindakan yang merusak atau dengan diam-diam membiarkan.

jika kita yang melukai, kitalah yang harus menyembuhkan.
Mungkin kita tidak bisa mengubah dunia sendirian tetapi kita bisa memulai dari hal kecil seperti; mengurangi sampah, menanam pohon, menjaga kebersihan dan lebih peduli terhadap lingkungan.

Kesalahan terbesar bukanlah merusak tetapi tetap diam dan tidak berusaha memperbaiki. Jadi masihkah kita ingin menyalahkan orang lain atau mulai mengambil langkah untuk menyelamatkan bumi kita?

Leave a Reply