Kuteladani dari Rasulullah
Penulis: Moh. Imam Bahrul Ulum, M.Pd
Apakah hari ini aku benar-benar sedang mendidik atau hanya menyampaikan pelajaran?
Apakah murid-muridku merasa dihargai, didengarkan atau mereka hanya merasa sedang dinilai?
Aku pernah mengira bahwa menjadi guru adalah tentang seberapa banyak ilmu yang mampu kuberikan.
Namun semakin lama aku menapaki jalan ini
Aku belajar bahwa pendidikan ternyata jauh lebih dalam daripada itu.
Sebab ilmu dapat disampaikan dengan pikiran,
tetapi manusia hanya dapat disentuh dengan kasih.
Dan di situlah aku kembali menoleh kepada sosok yang seharusnya menjadi teladan dalam setiap langkahku sebagai pendidik
yaitu Rasulullah
Aku membayangkan bagaimana Rasulullah membimbing umatnya.
Beliau berhadapan dengan manusia yang berbeda-beda,
ada yang telah memahami,
ada yang belum mengerti,
ada yang datang dengan hati yang lapang,
ada pula yang membawa kesalahan dan kelemahan.
Namun kelembutan tidak pernah kehilangan tempat dalam cara beliau mendidik.
Rasulullah tidak menjadikan kesalahan seseorang sebagai alasan untuk merendahkan martabatnya.
Beliau membimbing dengan kasih sayang,
menegur tanpa menghancurkan
dan mengajarkan tanpa membuat orang merasa dirinya tidak berharga.
Lalu aku bertanya kepada diriku sendiri
Jika Rasulullah begitu lembut dalam membimbing umatnya
sudahkah kelembutan itu hadir dalam caraku mendidik murid-muridku?
Mungkin aku tidak selalu mampu menjadi guru yang sempurna.
Aku pun bisa lelah, bisa kecewa, bisa kehilangan sabar.
Namun aku ingin terus belajar.
Mungkin keberhasilan seorang guru bukan hanya ketika muridnya mampu menjawab soal dengan benar
tetapi ketika ia pulang dari kelas dengan hati yang lebih percaya diri, lebih berani dan merasa bahwa dirinya berharga.
Ya Allah
jika aku belum mampu menjadi guru yang sempurna
jangan biarkan aku kehilangan kelembutan dalam mendidik.
Biarkan ilmuku menjadi manfaat.
Biarkan teguranku tetap memiliki kasih.
Biarkan kesabaranku menjadi teladan.
Dan biarkan setiap langkah kecilku di ruang kelas menjadi benih harapan
bagi mereka yang kelak akan berjalan lebih jauh dariku.
Ilmu mungkin membuat mereka tahu.
Tetapi kasih membuat mereka tumbuh.
Dan mungkin setelah sekian panjang aku menapaki jalan ini, akhirnya aku mengerti
Ada jalan yang tidak selalu mudah, tetapi di sanalah hati ini belajar pulang.
Bagiku,
jalan itu adalah pendidikan.
Tempat lelah menjadi lillah.
Tempat ilmu bertemu kasih.
Tempat kesabaran menjadi pengabdian.
Sebab pada akhirnya
aku tidak tahu jejak apa yang akan tinggal setelah aku pergi.
Tetapi aku berharap
ada kebaikan kecil yang pernah kutanam di hati mereka
dan suatu hari tumbuh menjadi cahaya yang menerangi jalan mereka.
Barangkali di situlah makna terdalam menjadi seorang guru
bukan sekadar mengajarkan jalan
tetapi menemani manusia menemukan arah pulangnya.
