Sudah Saatnya Bangsa ini menyusun Cetak Biru Pendidikan
Penulis: Moh. Imam Bahrul U, M.Pd.
Pendidikan merupakan fondasi utama bagi pembangunan bangsa. Namun, hingga kini sistem pendidikan di Indonesia tampaknya masih belum memiliki blueprint atau cetak biru yang kokoh, terarah dan konsisten. Seolah-olah kita terus bergerak mengarungi samudra luas tanpa peta dan tanpa arah yang pasti.
Salah satu indikator ketiadaan blueprint adalah seringnya perubahan kurikulum tanpa fondasi evaluasi yang menyeluruh. Kurikulum berganti hampir setiap dekade dari Kurikulum 1994, KBK 2004, KTSP 2006, Kurikulum 2013, hingga Kurikulum Merdeka Belajar. Sayangnya setiap pergantian tidak diiringi dengan kesiapan infrastruktur, pelatihan guru yang memadai, atau kajian mendalam terhadap efektivitas kurikulum sebelumnya. Akibatnya peserta didik dan tenaga pendidik menjadi kelinci percobaan dari eksperimen kebijakan.
Pendidikan = Politik?
Perubahan kebijakan pendidikan juga sangat dipengaruhi oleh pergantian kepemimpinan. Masing-masing menteri datang dengan visi dan misi baru yang kerap kali mengabaikan kesinambungan dari program sebelumnya. Ini menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah pendidikan kita berorientasi pada kepentingan jangka panjang bangsa atau hanya menjadi ajang pencitraan jangka pendek para penguasa?
Negara-negara maju seperti Finlandia, Korea Selatan, dan Jepang telah membuktikan bahwa blueprint pendidikan jangka panjang adalah kunci sukses mereka. Di Finlandia misalnya, rancangan sistem pendidikan dibuat untuk 25–30 tahun ke depan dengan target jelas, inklusif, dan disepakati lintas partai. Sementara di Indonesia belum memiliki dokumen nasional jangka panjang yang menjadi acuan utama pendidikan hingga puluhan tahun ke depan. Rencana pembangunan jangka menengah (RPJMN) belum cukup kuat menjadi fondasi, karena sifatnya masih terlalu umum dan berubah seiring pergantian administrasi.
Akibat dari tidak adanya blueprint, pendidikan Indonesia diwarnai oleh ketimpangan yang tinggi antara pusat dan daerah, antara kota dan desa. Sekolah-sekolah di daerah tertinggal masih mengalami krisis guru, fasilitas minim serta akses pendidikan yang sulit. Di sisi lain sekolah di kota besar mulai bersaing dalam hal teknologi, bahasa asing, dan globalisasi. Ini menciptakan jurang kualitas yang semakin lebar.
Selain itu, peserta didik dibingungkan dengan sistem evaluasi yang berubah-ubah. Ujian nasional yang dulu menjadi momok kini dihapus diganti dengan asesmen nasional yang belum dipahami secara merata. Ketidakjelasan arah ini menimbulkan kebingungan bukan hanya di kalangan siswa tetapi juga guru dan orang tua.
Mengapa Blueprint Itu Penting?
Cetak biru pendidikan bukan sekadar dokumen. Ia adalah kompas arah, pijakan untuk konsistensi, dan jaminan keberlanjutan sistem pendidikan. Ia harus disusun dengan pendekatan ilmiah, partisipatif, lintas sektoral, dan menjangkau masa depan. Pendidikan adalah proyek jangka panjang yang hasilnya baru tampak puluhan tahun ke depan, bukan sekadar proyek politik lima tahunan.
Tanpa blueprint yang jelas, pendidikan Indonesia akan terus berjalan tanpa arah, terus dibebani kebijakan tambal sulam dan gagal mempersiapkan generasi masa depan yang adaptif, cerdas, dan berkarakter. Sudah saatnya bangsa ini menyusun dan menjalankan cetak biru pendidikan nasional yang berkelanjutan, melampaui ego politik dan kepentingan jangka pendek. Pendidikan bukan milik satu menteri atau satu periode kekuasaan, ia adalah hak masa depan.
